Sebuah Tulisan Sederhana | Kenapa Harus Saya Terus Sih ?

Sebuah Tulisan Sederhana | Kenapa Harus Saya Terus Sih ?

Tulisan dengan judul Sebuah Tulisan Sederhana | Kenapa Harus Saya Terus Sih ?, merupakan tulisan yang akan dikumpulkan dan rencananya akan dibuatkan sebuah buku oleh komunitas Alumni KMO Batch 15.

Sebuah Tulisan Sederhana | Kenapa Harus Saya Terus Sih ?

KMO adalah sebuah Komunitas Menulis Onlie yang didirikan oleh Kang Tendi Murti. Didalam komunitas ini, kita akan diberikan edukasi dari para penulis-penulis terkenal aga kita dapat membuat tulisan yang baik dan benar sesuai kaedah bahasa Indonesia. 

Sedangkan alumni KMO batch 15 merupakan sebuah komunitas bagian dari KMO. Dimana anggota-anggota alumni KMO Batch 15 merupakan alumni yang selama ini ikut dalam kelas menulis yang diadakan oleh KMO. 

Walau anggota alumni tidak semuanya aktif, tetap selalu berusaha untu komunikasi. Sehingga berhasil mengajak para anggota alumni yang aktif untuk membuat sebuah tulisan pendek yang rencananya akan dibukukan.

Tulisan ini berngenre bebas, dikembalikan kepada anggotanya untuk menulis sesuai dengan minat masing-masing. Adapun tema yang disepakati adalah DAPUR. Saya mencoba menulis dengan judul 

Sebuah Tulisan Sederhana | Kenapa Harus Saya Terus Sih ?

“Sep, kapan kamu pulang ?” tanya ibuku lewat telepon.

“Inshaallah besok Mah.” Jawabku singkat.

Ibu biasanya akan menelepon, jika aku dan saudaraku yang lain tidak juga berkunjung ke rumah orang tuaku. Apalagi saat ini merupakan bulan Ramadhan di tahun 2010, dan hari ini tinggal 2 hari lagi Ramadhan akan berakhir, yang artinya sebentar lagi kita akan merayakan hari Raya Idul Fitri. Hari Raya Idul Fitri akan dirayakan di tanggal 9 September 2010.

Jadi wajar, jika ibuku menelpon untuk memastikan apakah semua anaknya akan pulang untuk berkumpul dan merayakan Hari Raya Idul Fitri bersama-sama. Kami 5 bersaudara, memang sudah tinggal berpisah dengan orang tua kami. Ada yang tinggal di Sulawesi, Bali, Karawang, dan saya sendiri dengan seorang kakakku tinggal di satu kota yakni di Bandung.

Satu hari menjelang hari raya Idul Fitri, di rumah orang tuaku akan menjadi sibuk sekali, terutama di dapur. Persiapan untuk menu makanan yang disantap di hari raya harus maksimal. Ketupat, sambel goreng kentang, Kerupuk, dan opor ayam adalah menu wajib yang harus tersedia di kala hari raya tiba. Dan hampir setiap kali persiapan untuk menyambut hari Raya Idul Fitri ini, urusan dapur akan dilimpahkan kepadaku.

Membantu kedua orang tua sudah merupakan kewajiban bagi seorang anak, akan tetapi terkadang saya merasa ada ketidak adilan yang diperlakukan oleh ibuku, aku memiliki saudara 4 orang akan tetapi kenapa harus aku terus sih yang mengurusi dapur ini. Di rumah ini aku memiliki 3 orang saudara perempuan yang seharusnya ini menjadi urusan mereka.

“Sep, mamah tidur dulu yah,” ujar ibuku

“ Kamu selesaikan masaknya, buat ketupat dan jangan lupa opor ayamnya di coba dulu.”, ucap ibuku lagi, sambil berjalan perlahan menuju ke kamar tidurnya untuk beristirahat. Kebetulan waktu saat itu telah menunjukkan pukul 22.30.

“Iya mah.” jawabku pendek

Kenapa mamah harus nyuruh saya terus sih,” gumamku “buka nyuruh yang lain

Dengan sedikit ngedumel dalam hati, semua pekerjaan menyiapkan masakan untuk di nikmati di hari Raya Idul Fitri harus selesai di kerjakan. Bak bagai seorang chef, semua masakan yang telah selesai dan yang sedang dalam proses saya cicipi satu persatu untuk memastikan rasanya pas di lidah.

Ketika semua orang didalam rumah sudah terlelap semua didalam tidurnya,mungkin dengan mimpi-mimpi yang indah, aku masih berjibaku dengan bumbu dapur dan panasnya suasana di dalam dapur, akan tetapi tanggung jawab ini harus segera diselesaikan dengan tuntas.

Sebuah Tulisan Sederhana | Kenapa Harus Saya Terus Sih ?

Wah sudah Jam 12 malam.” gumamku sambil menyelasikan satu masakan yang belum beres. Dengan segera aku bereskan dan rapihkan semuanya. Masakan yang sudah jadi masih tersimpan didalam panci dan penggorengan, belum aku pindahkan ke tempat masakan, karena besok pagi akan di panaskan dulu sebelum di santap bersama

Alhamdulillah, selesai juga.” Ujarku dalam hati.

Hari ini sudah masuk tanggal 9 September 2010, berarti hari ini kita sudah masuk hari raya Idul Fitri. Di kejauhan suara takbir terus dikumandangkan di mesjid-mesjid tiada hentinya, aku segera bersiap-siap untuk beristirahat. Sebuah Tulisan Sederhana | Kenapa Harus Saya Terus Sih ?

“Waduh..kamar penuh semua nih,” gumamku, rumah orang tuaku memiliki 3 buah kamar tidur, sementara kami 5 bersaudara dan sudah memiliki keluarga semua. Bisa dibayangkan ketika berkumpul semua, urusan tidur menjadi persoalan sendiri. Alhasil semua tempat yang memungkinkan bisa dipakai untuk tidur harus dimaksimalkan.

Setelah mencari-cari dimana tempat yang bisa dipakai untuk bisa tidur, akhirnya saya mendapatkan satu tempat yang bisa digunakan untuk tidur, yakni kursi. He..he..

“Tidur sini aja lah.” Gumamku

Bapakku berniat untuk membuatkan lagi kamar tidur dengan cara merombak rumah menjadi 2 lantai, sehingga nantinya di lantai 2 bisa dibuatkan lagi kamar tidur, sehingga semua anak-anaknya bisa memili kamar sendiri, akan tetapi hal itu di tolak oleh kakaku yang sulung.

Baca juga artikel lainnya dengan klik disini

“Papah berencana bikin kamar tidur lagi diatas, biar kalian bisa punya kamar sendiri-sendiri,” kata ayahku, ketika kami berkumpul sebelum emasuki bulan Ramadhan

“Mending ga usah Pah, biar seperti ini, biar anak-anak dan kita menjadi lebih akrab.” Ujar A Deni. Ini nama kakakku yang pertama.

Memang benar juga sih, apalagi kami sangat sulit untuk ketemu, bahkan bisa dikatakan tidak akan berkumpul kecuali di hari raya Idul Fitri. Walaupun akhirnya ketika urusan tempat tidur harus ada yang dikorbankan he..he…, dan akhirnya memang benar kamarpun tidak jadi di bangun.

Kringgg….    kringgg…. kringgg…

Jam weker berbunyi nyaring membangunkan aku dikala baru saja akan memulai mimpi indahnya.

“Wah sudah jam 04.30,” ujarku sambil terus melompat dari kursi dan segera mengambil air wudhu untuk segera melaksanakan sholat subuh.

Selesai sholat subuh, aku bergegas ke dapur karena urusan dapur yang menjadi tanggung jawabku belum selesai. Aku harus memastikan masakan yang di buat semalam tidak sampai basi. Langsung saja masakan ku hangatkan kembali dan disajikan di mangkok untuk siap di santap setelah pulang dari sholat Ied.

Setelah pulang dari melaksanakan sholat Ied dilapangan, dilanjutkan kemudian dengan saling memaafkan, akhirnya tibalah saatnya untuk menikmati hidangan wajib di hari raya Idul Fitri, yakni opor ayam, ketupat dan sambal goreng ati.

“Enak mah, opor ayamnya,” ujar Teng eneng, istri kakakku

“Tuh, Asep yang buat opornya.” Kata ibuku sambil melirik ke aku

Wah senang sekali aku dipuji, walau sebenarnya tidak semuanya aku yang memasaknya. Ada perasaan menyesal di dalam hati, karena aku membantu ibuku memasak dengan hati sedikit mendongkol. Ibuku tidak mengatakan kalau masakan itu dia buat sendiri, akan tetapi lebih memuji aku. Sebuah Tulisan Sederhana | Kenapa Harus Saya Terus Sih ?

Tahun demi tahun berganti…

Dan Allah masih mengijinkan kami untuk dapat bertemu dan berkumpul di bulan Ramadhan, terutama di hari raya Idul Fitri tahun 2019 bersama kedua orang tuaku dan ke 4 saudaraku yang lain. Kedua orang tuaku sekarang kondisinya tidak seperti dulu lagi. Di usianya yang semakin tua, di tambah lagi Ibu dan Bapakku pernah di rawat di Rumah Sakit, untuk melakukan aktivitas sehari-hari jadi sangat terbatas.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, di hari raya Idul Fitri, makanan wajib seperti ketupat, opor ayam dan sambel goreng kentang wajib tersedia di meja makan. Dan seperti yang sudah-sudah, untuk urusan dapur aku selalu di libatkan oleh ibuku.

“Sep, kapan kamu pulang ?” tanya ibuku melalui telpon, hal yang biasa beliau lakukan ketika aku dan saudara-saudaraku belum juga datang ke rumah orang tuaku.

“InshaAllah, besok mah.” Jawabku

Kebetulan dikantorku, cuti bersama dimulai 2 hari menjelang hari raya Iedul Fitri, sehingga aku baru bisa pulang esok harinya.

“Mah, ketupat, opor ayam dan sambel goreng nanti Asep bawa dari rumah yaa,” ujarku dalam percakapan di telepon.

Kali ini untuk makanan wajib di hari raya Iedul Fitri yang biasanya di masak sendiri. Kali ini, aku pesan ke orang lain, mungkin untuk rasa tidak seperti ketika kita membuatnya sendiri. Akan tetapi hal ini bisa menghemat waktu, sekaligus bisa berbagi rezeki dengan orang lain.

Dulu, ketika ibu menyuruh aku untuk membantu memasak. Terkadang aku selalu merasa kalau ibuku tidak berlaku adil. Karena untuk urusan dapur aku harus selalu terlibat. Dengan perjalanan waktu hal itu selalu aku tunggu, bahkan ketika aku berkunjung ke rumah orang tuaku tanpa disuruhpun aku selalu menanyakan ke mamah, “mamah mau dimasakan apa ?”

Kebiasaan mamah menyuruh aku, ternyata membuat aku sangat dekat mamah. Aku bersyukur ini sebenar berkah buatku. Ketika mamah akan bepergian ke suatu tempat, mamah selalu meminta agar aku yang mengantarnya. Allah mungkin sudah menjawab doaku untuk selalu punya waktu untuk membahagikan kedua orang tuaku, terutama mamah.

Author: willyst82

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *